A. Pengertian Kultur Jaringan
Kultur
jaringan tanaman merupakan bagian suatu teknik perbanyakan vegetatif
nonkonvensional. Perbedaan teknik ini dibandingkan dengan teknik perbanyakan
vegetative konvensional biasanya terletak dalam situasi dan lokasi yang
berbeda. Penerapan teknik kultur
jaringan tanaman mensyaratkan kondisi di dalam ruangan (laboratorium) dan
sifatnya aseptik (steril dari patogen).
Bermuara dalam kondisi yang aseptic, maka perlu dijelaskan bahwa segala
aktifitas yang berkaitan dengan jaringan harus dalam kondisi aseptik. Kondisi
ini dimulai dari cara:
1. Penyiapan peralatan (alat tanam
berbahan logam ataupun gelas).
2. Pembuatan media penanaman.
3. Penanaman (inisiasi dan
pemilihan: a. perbanyakan; b.perakaran).
Selain
peralatan kultur jaringan, media merupakan salah satu factor utama dalam
keberhasilan kultur. Media kultur jaringan tanaman harus berisi semua zat yang
diperlukan untuk menjamin pertumbuhan eksplan yang ditanam. Media kultur
jaringan memiliki karakteristik masing-masing. Artinya tidak semua media dapat
digunakan pada semua kultur tanaman. Karena beberapa media yang ada memiliki
perbedaan kandungan dan konsentrasi zat-zat yang diperlukan atau digunakan pada
kultur.
Media
merupakan faktor utama dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. Keberhasilan
perbanyakan dan perkembangbiakan tanaman dengan metode kultur jaringan secara
umum sangat tergantung pada jenis media. Media tumbuh pada kultur jaringan
sangat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan eksplan serta
bibit yang dihasilkannya. Oleh karena itu, berbagai komposisi media kultur
telah diformulasikan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman
yang dikulturkan. Media kultur fisiknya dapat berbentuk padat atau cair.
Media berbentuk padat menggunakan pemadat media seperti
agar. Media kultur yang memenuhi syarat adalah yang mengandung nutrient makro
dan mikro dalam kadar dan perbandingan tertentu, sumber energi (sukrosa), serta
mengandung berbagai macam vitamin dan ZPT.
B.
Teknik
dalam kultur jaringan antara lain :
1. Meristem
culture, budidaya jaringan dengan mengunakan eksplan dari jaringan muda atau
meristem.
2. Pollen
culture/anther culture, menggunakan eksplan dari pollen atau benang sari.
3. Protoplas
culture, menggunakan eksplan dari protoplas.
4. Chloroplas
culture, menggunakan kloroplas untuk keperluan fusi protoplas.
5. Somatic
cross (bilangan protoplas/fusi protoplas), menyilangkan dua macam protoplas,
kemudian dibudidayakan hingga menjadi tanaman kecil yang mempunyai sifat baru.
C.
Tujuan
teknik kultur jaringan, sebagai berikut.
1. Menghasilkan
tanaman dalam jumlah besar dengan lahan yang tidak terlalu luas dan waktu yang
sigkat.
2. Menghasilkan
tanaman yang bebas penyakit.
3. Melestarikan
jenis tanaman langka.
4. Mempertahankan
sifat-sifat tanaman induk.
5. Menghasilkan
varietas tanaman baru dengan kultur fusi protoplas.
D.
Tahapan-tahapan
teknik Kultur Jaringan
Tanaman yang diudidayakan menggunakan
teknik kultur jaringan umumnya merupakan tanaman yang bernilai ekonomi tinggi
atau tanaman yang sulit dikembangkan. Tahapan-tahapan yang dilakukan dalam
teknik kultur jaringan sebagai berikut.
a.
Tahapan
Persiapan dan Sterilisasi Eksplan
Pada
tahap ini dilakukan pembatan medium tanam dan sterilisasi alat. Medium
tanam berupa medium agar=agaryang diberi
tambahan unsure makro dan mikro, asam amino, vitamin, gula, serta hormon
pengatur tumbuh. Medium harus disterilkan menggunakan uap panas bersuhu 1400C
dan bertekanan 1 atm dengan waktu yang telah ditentkan agar aseptis. Alat yang
digunakan untuk sterilisasi medium dan peralatan disebut autoklaf. Selanjutnya,
dilakukan pengambilan eksplann dari tanaman yang sehat.
b.
Tahapan
Inokulasi
Pada tahap ini dilakukan penanaman eksplan dalam
ruangan tertutup dan telah disterilkan. Ruang penanaman dapat berupa entkas
(ruangan tertutup dan terbuat dari kaca) atau Laminar Air Flow (LAF). Ruang
penanaman harus disterilkan dahulu menggunakan alcohol atau formalin. Demikian
pula peralatan untuk menanam seperti pinset, dan dissecting set juga harus
disterilkan dengan cara mencelupkannya pada alcohol 90% lalu dibakar sebelum
digunakan. Selanjutnya eksplan disterilkan menggunakan larutan hipoklorit dan
dipotong-potong kecil kemudian dinokulasi dalam medium tanah. Eksplan dalam
medium kultur ini kemudian dipelihara di dalam ruangan aeptis yang terkontrol
lingkingan fisiknya.
c.
Tahap
Subkultur
Setelah terbentuk calon tumbuhan (
akar/tunas) maka dilakukan pemindahan ke medium yang baru. Komposisi hormone
dalam medium tanam yang baru biasanya berbeda dengan komposisi hormon pada
medium yang digunakan sebelumnya. Hasil kultur dapat berupa tunas atau kalus.
Kalus adalah massa sel yang tidak terdiferensiasi. Selajutnya, kalus
dipindahkan ke dalam medium yang diberi hormon auksin dan hormon sitokinin yang
seimbang. Kalus akan berdiferensiasi membentuk organ tumbuhan sehingga individu
baru terbentuk.
d.
Tahap
Akilimatisasi
Bibit tanaman yang dihasilkan dari teknik kultur
jaringan berupa tumbuhan yang berukuran kecil yang disebut plantet. Plantet
harus diaklimatisasi sebelum dipindah ke lahan tanam. Aklimatisasi dilakukan
agar plantet beradaptasi dengan lingkungannya yang baru. Plantet ditanam dalam
polybag dan diletakkan di tempat yang teduh. Seiring dengan pertumbuhannya,
intensitas cahaya yang mengenai tanaman hasil kultur ditambah.
KULTUR
JARINGAN
TANAMAN
ANGGREK
Langkah-langkah Teknik Kultur
Jaringan
Salah satu aplikasi
bioteknologi yaitu dengan kultur jaringan. Kultur jaringan tanaman merupakan
teknik menumbuh kembangkan bagian tanaman, baik berupa sel, jaringan atau organ
dalam kondisi aseptik secara in vitro. Teknik kultur jaringan dicirikan dengan
kondisi yang aseptik atau steril dari segala macam bentuk kontaminan,
menggunakan media kultur yang memiliki kandungan nutrisi yang lengkap dan
menggunakan ZPT ( zat pengatur tumbuh ), serta kondisi ruang tempat pelaksanaan
kultur jaringan diatur suhu dan pencahayaannya. (Yusnita, 2003: 1).
Sebenarnya kultur jaringan merupakan salah satu bentuk kloning pada
tumbuhan. Tumbuhan dapat diperbanyak melalui proses kultur jaringan karena
memiliki sifat totipotensi, yaitu bahwa setiap sel tanaman yang hidup
dilengkapi dengan informasi genetik dan perangkat fisiologis yang lengkap untuk
tumbuh dan berkembang menjadi tanaman utuh. Proses kultur jaringan dimulai
dengan memotong bagian tanaman yang akan dibiakkan dalam media kultur. Bagian
tanaman yang akan dikulturkan ini disebut sebagai eksplan. Umumnya bagian
tanaman yang dijadikan eksplan adalah jaringan yang masih muda dan bersifat
meristematis, karena memiliki daya regenerasi yang tinggi dan masih aktif
membelah. Eksplan kemudian diletakkan dalam media kultur yang sesuai. Eksplan
tadi akan terus membelah membentuk masa sel yang belum terdifferensiasi, yaitu
kalus. Kalus kemudian dipindah dalam media differensiasi yang akan terus tumbuh
dan berkembang menjadi tanaman kecil atau planlet.
Teknik kultur jaringan merupakan cara perbanyakan tumbuhan secara
invitro. Perbanyakan invitro adalah penanaman jaringan atau organ
tumbuhan di luar lingkungan tumbuhnya
Kultur jaringan tanaman Anggrek
Melalui kultur jaringan ini, jaringan tumbuhan diambil sedikit, lalu
ditumbuhkan dalam media buatan sehingga tumbuh menjadi tanaman sempurna. Kultur
jaringan dilakukan berdasarkan pada prinsip totipotensi. Menurut prinsip
totipotensi setiap sel tumbuhan mengandung semua informasi genetik yang
diperlukan untuk tumbuh dan berkembang menjadi tanaman lengkap.
Teknik kultur jaringan tidak dapat dilakukan di sembarang tempat. Teknik
ini harus dilakukan di dalam ruangan khusus yang steril agar terbebas dari
kontaminasi udara luar. Kultur jaringan dilakukan di dalam suatu laboratorium
khusus yang digunakan untuk kultur jaringan. Laboratorium berfungsi untuk
mengkondisikan kultur dalam suhu dan pencahayaan terkontrol yang dilengkapi
dengan alat dan bahan untuk pembuatan media. Pada dasarnya tumbuh-tumbuhan
memiliki daya regenerasi yang kuat. Dasar inilah yang akhirnya menjadi titik
tolak berkembangnya industri perbanyakan (propagasi) tanaman.
Bila sel-sel jaringan atau organ tanaman ditanam di luar lingkungan
tumbuhnya (invitro) dengan menggunakan larutan bahan makanan sintetik
ternyata dapat berenegerasi menjadi tunas dan akar yang selanjutnya dapat
berkembang menjadi tanaman normal yang mampu hidup mandiri menjadi tumbuhan
yang utuh.
1. Langkah-Langkah Teknik Kultur Jaringan
Kultur jaringan tumbuhan dapat dilakukan dengan langkah seperti berikut ini.
a. Menyiapkan media tumbuh yang terdiri atas campuran garam mineral berisi unsur makro dan mikro, asam amino, vitamin, gula serta hormon tumbuhan dengan perbandingan tertentu
b. Siapkan eksplan (jaringan yang akan dikultur)
c. Tanamkan eksplan pada media yang telah disiapkan.
d. Setelah terbentuk calon tumbuhan (akar, tunas) maka dipindahkan ke media tanah untuk tumbuh menjadi tanaman dewasa.
a. Menyiapkan media tumbuh yang terdiri atas campuran garam mineral berisi unsur makro dan mikro, asam amino, vitamin, gula serta hormon tumbuhan dengan perbandingan tertentu
b. Siapkan eksplan (jaringan yang akan dikultur)
c. Tanamkan eksplan pada media yang telah disiapkan.
d. Setelah terbentuk calon tumbuhan (akar, tunas) maka dipindahkan ke media tanah untuk tumbuh menjadi tanaman dewasa.
AKLIMATISASI KULTUR JARINGAN
TANAMAN ANGGREK
Aklimatisasi adalah masa adaptasi tanaman hasil pembiakan pada kultur
jaringan yang semula kondisinya terkendali kemudian berubah pada kondisi
lapangan yang kondisinya tidak terkendali lagi, disamping itu tanaman juga
harus mengubah pola hidupnya dari tanaman heterotrop ke tanama autotrop.
Aklimatisasi atau penyesuaian terhadap lingkungan baru dari lingkungan yang terkendali ke lingkungan yang relatih berubah. Bibit anggrek hasil perbanyakan secara in vitro membutuhkan proses adaptasi sebelum tumbuh besar menjadi tanaman. Untuk itu perlu kiranya mengetahui tahapannya sebagai berikut :
Aklimatisasi atau penyesuaian terhadap lingkungan baru dari lingkungan yang terkendali ke lingkungan yang relatih berubah. Bibit anggrek hasil perbanyakan secara in vitro membutuhkan proses adaptasi sebelum tumbuh besar menjadi tanaman. Untuk itu perlu kiranya mengetahui tahapannya sebagai berikut :
- Kriteria bibit botol yang siap dikeluarkan
yaitu daun sudah menyentuh dinding atas botol, akar sudah tumbuh
dengan baik, media sudah habis/kering, atau jika bibit dalam botol terkontaminasi
jamur atau bakteri sehingga perlu segera dikeluarkan;
- Tulis
kode silangan atau nama jenis anggrek beserta tanggal keluar bibit botol
gantungkan di baki kompot, tulis juga dalam buku sewaktu-waktu dapat dilacak;
- Gunakan
tray plastik berlubang sebagai pengganti pot kompot
- Buka
tutup botol dan gunakan kawat berujung melengkung ‘U’ dan tarik satu persatu
bibit, usahakan akar terlebih dahulu yang di kelurkan;
- Untuk
mempercepat pekerjaan dapat pula dengan cara bungkus botol dengan koran dan
pukul belakang botol dengan palu hingga pecah;
- Setelah
bibit dikeluarkan, dibilas di atas tray plastik berlubang kemudian semprot
dengan air mengalir hingga sisa media agar yang menempel pada akar bersih;
- Tiriskan bibit yang bersih di atas kertas koran;
- Tanaman secara berkelompok bibit sesuai dengan ukuran bibit
yang besar terlebih dahulu kemudian bibit yang kecil dengan posisi bibit
berdiri;
- Setelah selesai menanam simpan kompot anggrek di tempat yang
teduh bersirkulasi udara baik;
- Semprot menggunakan handsprayer kompot anggrek tadi keesokan
harinya; setiap hari selama satu minggu;
- Setelah satu minggu pertama penyiraman sudah dapat
menggunakan air mengalir dari selang; pemupukan sudah dapat diaplikasikan
menggunakan pupuk yang berimbang kadar N:P:K = 21:21:21 dengan
konsentrasi ¼ anjuran dalam kemasan satu minggu dua kali;
- Penggunaan Vitamin B1 dapat juga digunakan dengan
konsentrasi 1/4/ anjuran dalam kemasan satu minggu sekali;
- Setelah kompot anggrek berumur kurang lebih 1 – 1,5 bulan
dengan ciri bibit sudah kekar dan akar baru sudah tumbuh, bibit dapat ditanam
dalam individual pot berukuran 5 cm dengan media pakis atau sabut kelapa. Bibit
dengan ukuran kecil dapat diteruskan penanamannya dalam kompot;
- Catatan: Masing-masing
nursery dan petani memiliki cara yang berbeda-beda. Cara yang kami lakukan bisa
disebut dengan cara kering, dengan maksud menghindari bibit terlalu sering
terkena air, karena akan mengakibatkan bibit menjadi lemas (osmosis rendah).
Sehingga bibit saat ditanam akan layu dan tidak dapat berdiri;
- Penggunaan fungisida yang biasa
digunakan dalam beberapa buku tentang aklimatisasi dengan merendam bibit
sebelum ditanam tidak kami lakukan kecuali bibit dalam botol sebelumnya sudah
terkontaminasi jamur.
Dalam melakukan aklimatisasi pengelompokan
plantlet hasil seleksi. Plantlet dikelompokan berdasarkan ukurannya untuk
memperoleh bibit yang seragam. Sebelum ditanam plantlet sebaiknya diseleksi
dulu berdasarkan kelengkapan organ, warna, hekeran pertumbuhan, dan ukuran.
Plantlet yang baik adalah yang organnya lengkap, mempunyai pucuk dan akar,
warna pucuknya hijau mantap artinya tidak tembus pandang dan pertumbuhan akar
bagus.
Menurut Trubus (2005) ciri-ciri bibit yang berkulitas baik yaitu planlet tampak sehat dan tidak berjamur, ukuran planlet seragam, berdaun hijau segar, dan tidak ada yang menguning. Selain itu planlet tumbuh normal, tidak kerdil, komposisi daun dan akar seimbang, pseudobulb atau umbi semu mulai tampak dan sebagian kecil telah mengeluarkan tunas baru, serta memiliki jumlah akar serabut 3 – 4 akar dengan panjang 1,5 – 2,5 cm. Prosedur pembiakan dengan kultur in vitro baru bisa dikatakan berhasil jika planlet dapat diaklimatisasi ke kondisi eksternal dengan keberhasilan yang tinggi. Aklimatisasi bertujuan untuk mempersiapkan planlet agar siap ditanam di lapangan. Tahap aklimatisasi mutlak dilakukan pada tanaman hasil perbanyakan secara in vitro karena planlet akan mengalami perubahan fisiologis yang disebabkan oleh faktor lingkungan. Hal ini bisa dipahami karena pembiakan in vitro (dalam botol) semua faktor lingkungan terkontrol sedangkan di lapangan faktor lingkungan sulit terkontrol (Herawan, 2006; Yusnita, 2004).
Di dalam botol kultur, kelembapan hampir selalu 100%. Aklimatisasi merupakan tahap kritis karena kondisi iklim mikro di rumah kaca, rumah plastik, rumah bibit, dan lapangan sangat jauh berbeda. Kondisi di luar botol berkelembapan nisbi jauh lebih rendah, tidak aseptik, dan tingkat intensitas cahayanya jauh lebih tinggi daripada kondisi di dalam botol.planlet atau tunas mikro lebih bersifat heterotrofik karena sudah terbiasa tumbuh dalam kondisi berkelembaban sangat tinggi, aseptik, serta suplai hara mineral dan sumber energi berkecukupan.
Disamping itu, tanaman tersebut memperlihhatkan gejala ketidaknormalan, seperti bersifat sangat sukulen, lapisan kutikula tipis, dan jaringan vasikulernya tidak berkembang sempurna, morfologi daun abnormal dengan tidak berfungsinya stomata sebagaimana mestinya, struktur mesofil berubah, dan aktivitas fotosintesis sangat rendah.
Aklimatisasi dilakukan dengan mengkondisikan planlet dalam media pengakaran ex vitro. Media yang kita gunakan dalam proses aklimatisasi pada anggrek adalah pakis dan arang kayu / genting. Selain itu juga kelembapan tempat aklimatisasi di atur tetap tinggi pada minggu pertama, menurun bertahap pada minggu–minggu berikutnya hingga tumbuh akar baru dari planlet. Cahaya diatur dari intensitas rendah, meningkat secara bertahap. Sebaiknya suhu tempat aklimatisasi dijaga agar tidak melebihi 32oC.
Menurut Trubus (2005) ciri-ciri bibit yang berkulitas baik yaitu planlet tampak sehat dan tidak berjamur, ukuran planlet seragam, berdaun hijau segar, dan tidak ada yang menguning. Selain itu planlet tumbuh normal, tidak kerdil, komposisi daun dan akar seimbang, pseudobulb atau umbi semu mulai tampak dan sebagian kecil telah mengeluarkan tunas baru, serta memiliki jumlah akar serabut 3 – 4 akar dengan panjang 1,5 – 2,5 cm. Prosedur pembiakan dengan kultur in vitro baru bisa dikatakan berhasil jika planlet dapat diaklimatisasi ke kondisi eksternal dengan keberhasilan yang tinggi. Aklimatisasi bertujuan untuk mempersiapkan planlet agar siap ditanam di lapangan. Tahap aklimatisasi mutlak dilakukan pada tanaman hasil perbanyakan secara in vitro karena planlet akan mengalami perubahan fisiologis yang disebabkan oleh faktor lingkungan. Hal ini bisa dipahami karena pembiakan in vitro (dalam botol) semua faktor lingkungan terkontrol sedangkan di lapangan faktor lingkungan sulit terkontrol (Herawan, 2006; Yusnita, 2004).
Di dalam botol kultur, kelembapan hampir selalu 100%. Aklimatisasi merupakan tahap kritis karena kondisi iklim mikro di rumah kaca, rumah plastik, rumah bibit, dan lapangan sangat jauh berbeda. Kondisi di luar botol berkelembapan nisbi jauh lebih rendah, tidak aseptik, dan tingkat intensitas cahayanya jauh lebih tinggi daripada kondisi di dalam botol.planlet atau tunas mikro lebih bersifat heterotrofik karena sudah terbiasa tumbuh dalam kondisi berkelembaban sangat tinggi, aseptik, serta suplai hara mineral dan sumber energi berkecukupan.
Disamping itu, tanaman tersebut memperlihhatkan gejala ketidaknormalan, seperti bersifat sangat sukulen, lapisan kutikula tipis, dan jaringan vasikulernya tidak berkembang sempurna, morfologi daun abnormal dengan tidak berfungsinya stomata sebagaimana mestinya, struktur mesofil berubah, dan aktivitas fotosintesis sangat rendah.
Aklimatisasi dilakukan dengan mengkondisikan planlet dalam media pengakaran ex vitro. Media yang kita gunakan dalam proses aklimatisasi pada anggrek adalah pakis dan arang kayu / genting. Selain itu juga kelembapan tempat aklimatisasi di atur tetap tinggi pada minggu pertama, menurun bertahap pada minggu–minggu berikutnya hingga tumbuh akar baru dari planlet. Cahaya diatur dari intensitas rendah, meningkat secara bertahap. Sebaiknya suhu tempat aklimatisasi dijaga agar tidak melebihi 32oC.
Setelah proses aklimatisasi anggrek
diperlakukan sebagai berikut:
a. Compotting
Ukuran pot yang digunakan untuk kompot berdiameter sekitar 7 cm pada pot ini diisi bibit sekitar 30 bibit anggrek atau tergantung ukuran bibitnya. Pertama-tama pot yang akan digunakan diisi dengan sterofoam sekitar 1/3 bagian, kemudian pakis cacah lalu bibit anggrek ditata dengan rapi..
b. Seedling (Penanaman ke Single Pot)
Seedling adalah proses memindahkan bibit dari kompot ke pot individu. Seedling dilakukan pada saat bibit berusia 5 bulan. Apabila tanaman terlambat diseedling dapat mengakibatkan bibit dalam kompot kompetisi sehingga penyerapan hara terhalang dan akar beresiko menjadi rusak. Biasanya seedling dilakukan diletakkan di dalam gelas bekas air mineral. Media yang digunakan untuk setiap anggrek berbeda-beda tergantung pada kebutuhan airnya. Media untuk Dendrobium adalah sphagnum yang dibalutkan pada akar tanaman, kemudian tanaman ditanam dalam gelas plastic yang telah diisi sterofoam dan pakis cacah. Biasanya juga ditanam pada media pakis batangan yang kemudian diikat menggunakan tali raffia. Ciri-ciri dari bibit yang siap di seedling yaitu ditandai dengan perakaran yang tumbuh lebih kuat dan daun daun tampak sudah keluar dari bibir pot.
c. Overpot (Pemindahan Bibit)
Overpot dilakukan ketika tanaman dalam single pot memenuhi syarat untuk dipindahkan, yaitu ditandai denga banyaknya umbi. Tanamn dipindahkan ke pot yang lebih besar. Biasanya dilakukan setelah seedling berumur 2-3 bulan. Media yang digunakan adalah potongan pakis batangan yang disusun secara teratur atau satu per satu dan diikat denga tali raffia.
d. Repotting
Repotting atau pengepotan ulang adalah pemindahan tanaman tanaman dari pot yang lama ke pot yang baru. Repotting dilakukan jika anggrek pada pot seedling telah tumbuh besar dan memenuhi popt plastik. Pengepotan ulang dilakukan dengan alasan media dalam pot seedling telah lapuk dan hancur sehingga ph menjadi rendah (asam) dan rentan terhadap serangan penyakit (Parnata, 2005). Selain itu juga untuk mengantisipasi media yang telah kehabisan unsur hara. Media untuk repotting juga berbeda untuk setiap jenis anggrek tergantung kebutuhan airnya.
a. Compotting
Ukuran pot yang digunakan untuk kompot berdiameter sekitar 7 cm pada pot ini diisi bibit sekitar 30 bibit anggrek atau tergantung ukuran bibitnya. Pertama-tama pot yang akan digunakan diisi dengan sterofoam sekitar 1/3 bagian, kemudian pakis cacah lalu bibit anggrek ditata dengan rapi..
b. Seedling (Penanaman ke Single Pot)
Seedling adalah proses memindahkan bibit dari kompot ke pot individu. Seedling dilakukan pada saat bibit berusia 5 bulan. Apabila tanaman terlambat diseedling dapat mengakibatkan bibit dalam kompot kompetisi sehingga penyerapan hara terhalang dan akar beresiko menjadi rusak. Biasanya seedling dilakukan diletakkan di dalam gelas bekas air mineral. Media yang digunakan untuk setiap anggrek berbeda-beda tergantung pada kebutuhan airnya. Media untuk Dendrobium adalah sphagnum yang dibalutkan pada akar tanaman, kemudian tanaman ditanam dalam gelas plastic yang telah diisi sterofoam dan pakis cacah. Biasanya juga ditanam pada media pakis batangan yang kemudian diikat menggunakan tali raffia. Ciri-ciri dari bibit yang siap di seedling yaitu ditandai dengan perakaran yang tumbuh lebih kuat dan daun daun tampak sudah keluar dari bibir pot.
c. Overpot (Pemindahan Bibit)
Overpot dilakukan ketika tanaman dalam single pot memenuhi syarat untuk dipindahkan, yaitu ditandai denga banyaknya umbi. Tanamn dipindahkan ke pot yang lebih besar. Biasanya dilakukan setelah seedling berumur 2-3 bulan. Media yang digunakan adalah potongan pakis batangan yang disusun secara teratur atau satu per satu dan diikat denga tali raffia.
d. Repotting
Repotting atau pengepotan ulang adalah pemindahan tanaman tanaman dari pot yang lama ke pot yang baru. Repotting dilakukan jika anggrek pada pot seedling telah tumbuh besar dan memenuhi popt plastik. Pengepotan ulang dilakukan dengan alasan media dalam pot seedling telah lapuk dan hancur sehingga ph menjadi rendah (asam) dan rentan terhadap serangan penyakit (Parnata, 2005). Selain itu juga untuk mengantisipasi media yang telah kehabisan unsur hara. Media untuk repotting juga berbeda untuk setiap jenis anggrek tergantung kebutuhan airnya.
Cara
Aklimatisasi (Anggrek)
Mengeluarkan anggrek dari dalam botol Sekitar 7-8 bulan setelah
berkecambah, anakan anggrek siap dikeluarkan dari dalam botol. Anakan anggrek
di dalam botol disebut dengan sedling. Sedling yang siap dikeluarkan mempunyai
akar yang banyak dan kelihatan kokoh. Mengeluarkan sedling dari dalam botol
harus berhati-hati. Sedling yang dikeluarkan dari botol sering tidak bisa
beradaptasi ketika dipindahkan ke kompot karena telah terbiasa hidup manja,
dengan makanan yang sudah disediakan di dalam botol. Pengeluaran sedling dari
dalam botol bisa dilakukan dengan dua cara sebagai berikut.
Cara Pertama
* Siapkan baskom yang berisi air bersih dan steril.
* Pecahkan botol di atas baskom. Kaca pecahan botol akan tenggelam dan anakan anggrek akan mengambang di atas permukaan air.
* Cuci anakan anggrek hingga bersih dan tidak terdapat agar-agar. Agar-agar yang masih menempel dapat menyebabkan tumbuhnya jamur yang merugikan anggrek.
* Rendam anakan anggrek di dalam physan (zat anti jamur) dengan dosis 2-3 mg per satu liter air agar tidak ditumbuhi jamur.
* Letakkan anakan anggrek di atas Koran dan diangin-anginkan agar bebas dari air.
* Setelah kering, pindahkan anggrek ke dalam kompot. Satu kompot bisa digunakan untuk 20-40 anakan anggrek, tergantung pada ukuran kompot dan besarnya anakan.
Cara Kedua
* Buka tutup botol dan masukkan air sampai setengahnya.
* Goyang-goyangkan botol hingga tanaman dan akarnya terpisah dari agar-agar.
* Keluarkan anakan anggrek menggunakan pinset atau kawat yang ujungnya dibengkokkan membentuk huruf “U”. Caranya dengan mengaitkan dan menarik akar anakan anggrek keluar sampai terjatuh ke dalam baskom yang berisi air bersih dan steril.
* Langkah selanjutnya sama seperti cara pertama.
Memindahkan anakan ke kompot
Setelah anakan anggrek dikeluarkan dari dalam botol, langkah selanjutnya adalah menanamnya di kompot. Kompot yang digunakan berdiameter 7, 12, 16, atau 20cm. Kompot tersebut tidak terlalu tinggi atau dalam, tetapi menyerupai cobek (tempat membuat sambal dari tanah liat). Kompot ada yang terbuat dari tanah atau plastik.
Media tanam yang digunakan bisa berupa pakis, sabut kelapa, moss (Lumut), akar kadaka dan kulit pinus. Sebelum digunakan, media tersebut harus direbus di dalam air selama 30 menit agar terbebas dari tanin atau zat perangsang pertumbuhan jamur.
Cara Pertama
* Siapkan baskom yang berisi air bersih dan steril.
* Pecahkan botol di atas baskom. Kaca pecahan botol akan tenggelam dan anakan anggrek akan mengambang di atas permukaan air.
* Cuci anakan anggrek hingga bersih dan tidak terdapat agar-agar. Agar-agar yang masih menempel dapat menyebabkan tumbuhnya jamur yang merugikan anggrek.
* Rendam anakan anggrek di dalam physan (zat anti jamur) dengan dosis 2-3 mg per satu liter air agar tidak ditumbuhi jamur.
* Letakkan anakan anggrek di atas Koran dan diangin-anginkan agar bebas dari air.
* Setelah kering, pindahkan anggrek ke dalam kompot. Satu kompot bisa digunakan untuk 20-40 anakan anggrek, tergantung pada ukuran kompot dan besarnya anakan.
Cara Kedua
* Buka tutup botol dan masukkan air sampai setengahnya.
* Goyang-goyangkan botol hingga tanaman dan akarnya terpisah dari agar-agar.
* Keluarkan anakan anggrek menggunakan pinset atau kawat yang ujungnya dibengkokkan membentuk huruf “U”. Caranya dengan mengaitkan dan menarik akar anakan anggrek keluar sampai terjatuh ke dalam baskom yang berisi air bersih dan steril.
* Langkah selanjutnya sama seperti cara pertama.
Memindahkan anakan ke kompot
Setelah anakan anggrek dikeluarkan dari dalam botol, langkah selanjutnya adalah menanamnya di kompot. Kompot yang digunakan berdiameter 7, 12, 16, atau 20cm. Kompot tersebut tidak terlalu tinggi atau dalam, tetapi menyerupai cobek (tempat membuat sambal dari tanah liat). Kompot ada yang terbuat dari tanah atau plastik.
Media tanam yang digunakan bisa berupa pakis, sabut kelapa, moss (Lumut), akar kadaka dan kulit pinus. Sebelum digunakan, media tersebut harus direbus di dalam air selama 30 menit agar terbebas dari tanin atau zat perangsang pertumbuhan jamur.
Kelebihan dan
Kekurangan Kultur Jaringan
Kelebihan kultur jaringan antara lain:
Kelebihan kultur jaringan antara lain:
- Tidak memerlukan tempat yang luas.
- Tanaman bisa diperbanyak dalam waktu yang singkat.
- Pelaksanaannya tidak tergantung pada musim.
- Bibit yang dihasilkan lebih sehat.
- Memungkinkan adanya rekayasa genetika.
Selain itu juga memiliki
kelemahan-kelemahan, yaitu:
- Diperlukan biaya awal yang relatif tinggi.
- Hanya mampu dilakukan oleh orang-orang tertentu saja, karena memerlukan keahlian khusus.
- Bibit hasil kultur jaringan memerlukan proses aklimatisasi, karena terbiasa dalam kondisi lembap dan aseptik. (Yusnita, 2003:8)
Casino - Mapyro
BalasHapusCasino. Casino. Casino. 100 Free. No Deposit. No 평택 출장샵 wagering requirements. 진주 출장샵 Free Cash/Cash. Minimum Deposit. 의정부 출장샵 10. Exclusively only with us. 100% 속초 출장마사지 bonus up to $3,000. 대구광역 출장마사지